Holocaust dan Genosida Pernah Didominasi Citra Metafora Pembinatangan Manusia

Menggunakan metafora pembinatangan, membandingkan manusia dengan binatang adalah jengkel yang tak tertahankan. Kita sendiri adalah binatang, tetapi binatang yang mempercayai bahwa kita bukan hanya binatang.

Ketika kita menyamakan orang dengan makhluk lain – ketika penggemar olahraga menggunakan cercaan rasial atau Donald Trump menyebut Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagai “animal” – bulu roma kita sering berdiri.

Orang ketika membuat “perbandingan binatang” menggunakan ekspresi yang tak terhitung jumlahnya, namun ternyata banyak di antaranya malah menyampaikan sentimen positif.

Saya mengetikkan sebuah query di mesin pencari, mencari tahu, apakah di belahan dunia lain orang bisa memiliki “ketahanan yang cukup” jika secara terus-menerus mendengar atau membaca orang atau manusia diperbandingkan dengan binatang.

Ini saya lakukan, setelah sebuah episode “membinatangkan sesama” di Indonesia baru saja berakhir (seharusnya), TETAPI ternyata tidak berakhir. Berkali-kali setelah pemilu usai, orang (teman) yang begitu mulia di mata saya sebelumnya, ternyata, ketahanannya untuk ofensif “membinatangkan” memukau saya.

Binatang imut dan mungil sering namanya disematkan pada anak-anak atau kekasih. Hewan-hewan yang “bernilai”, melambangkan sifat-sifat manusia yang diinginkan: orang-orang pemberani disebut berhati singa dan yang tanggap disebut bermata elang. Orang-orang di luar sana juga ternyata mengidentifikasikan diri dengan binatang totem dari klub sepak bola idola mereka.

Ada lagi metafora binatang lainnya yang lebih netral, menawarkan semacam sebutan zoologi untuk berbagai atribut manusia. Menyebut seseorang domba berarti mereka memiliki sifat konformis, sedangkan menyebut mereka ayam atau tikus menunjukkan mereka memiliki rasa takut dan takut-takut. Menyebut seseorang sebagai sapi atau katak maka sebenarnya kita lebih berbicara dengan karakteristik fisik daripada psikologis mereka.

Sebutan ini bervariasi antar-budaya dan antar-bahasa. Di Barat burung hantu melambangkan kebijaksanaan, tetapi di India mereka mewakili bagian kedunguan. Menyebut seseorang hiu di dunia berbahasa Inggris menyiratkan bahwa mereka tidak jujur ​​dan rakus (berbeda dengan di sini, perilaku korup dilambangkan dengan tikus), tetapi dalam bahasa Persia itu menunjuk pada seorang pria dengan sedikit atau tanpa janggut.

Namun banyak metafora binatang secara langsung menyinggung daripada sekadar mewakili sifat tertentu. Menyebut seseorang babi, tikus, kera, monyet, anjing, belatung atau lintah membawa makna merendahkan dan muatan emosi dan moral yang kuat, sebagaimana detik ini teman saya itu masih menyebut dua nama binatang yang menghiasi langit Indonesia sejak tahun kemarin.

Apa masalahnya dengan membuat “perbandingan binatang” ini sehingga menjadi ofensif atau melukai?

Dalam sebuah penelitian, terungkap upaya eksplorasi makna yang disampaikan oleh bermacam-macam metafora binatang dan memeriksa ciri-ciri apa yang membuat beberapa di antaranya sangat ofensif. Ada dua fitur kesimpulan dari penelitian tersebut.

Pertama, dan mungkin tidak mengherankan, hewan yang sangat dicerca seperti ular, lintah dan tikus membuat metafora yang lebih menghina. Ketika orang menggunakan metafora ini untuk merujuk pada seseorang, mereka tidak menyiratkan bahwa orang itu benar-benar seperti binatang ini. Sebaliknya mereka memindahkan rasa jijik ke arah binatang itu kepada orang tersebut.

Kedua, diungkapkan bahwa beberapa metafora hewan binatang tidak dapat diterima karena perbandingan itu sendiri tidak manusiawi. Ketika orang menyebut kera, monyet, atau anjing, misalnya, mereka menyamakan mereka dengan binatang yang tidak disukai, tidak seperti tikus atau ular. Namun metafora ini menyampaikan pesan bahwa orang-orang ini benar-benar tidak manusiawi.

(Apa yang membumi di Indonesia sejak tahun kemarin sampai detik ini, menjijikkan atau termasuk kategori mana?)

Singkatnya, beberapa metafora binatang adalah ofensif merendahkan sedangkan yang lain menjijikkan.

Bukan kebetulan bahwa kedua jenis fitur metafora ini berbeda dalam beberapa konflik paling mengerikan dalam sejarah. Metafora kera yang tidak manusiawi biasanya diterapkan pada orang Pribumi selama perang kolonial dan penaklukan. Metafora berbasis jijik yang menggambarkan orang sebagai hama dan kecoak mendominasi citra Holocaust dan genosida di Rwanda.

Genosida? Iya, bayangkan!

Meskipun hanya beberapa metafora binatang yang termasuk sangat ofensif, sebagian besar tampaknya agak negatif dalam konotasinya. Satu studi menemukan mayoritas yang jelas untuk dinilai tidak negatif – terutama yang paling sering ditujukan kepada manusia – dan yang lain menunjukkan metafora binatang terutama mewakili atribut negatif.

Penelitian kami menunjukkan bahwa atribut negatif yang paling umum adalah kebobrokan, ketidaksepakatan dan kebodohan. Intinya, ketika kita menyebut seseorang sebagai “binatang” dalam pengertian umum, kita menganggap kekurangan ini sebagai kesalahan mereka. Manusia itu bermoral, sosial, dan pintar; binatang tidak.

Memang, telah diperdebatkan metafora binatang mengungkapkan rasa hierarki yang mendalam di alam. Menurut gagasan kuno tentang scala naturae atau “rantai besar atau makhluk”, manusia di posisi satu langkah di atas binatang, yang dengan sendirinya lebih di atas tanaman dan kemudian mineral. Sama seperti kita berada di batu ketiga dari matahari, kita berada di langkah ketiga dari puncak tangga, di mana Tuhan dan para malaikat di atas kita.

Dalam hierarki ini manusia diduga memiliki kekuatan akal dan kendali diri yang unik, sedangkan hewan mewakili insting yang tidak terkendali. Karena itu memanggil seseorang sebagai binatang berarti menurunkan mereka ke tingkat keberadaan yang lebih rendah, suatu keadaan yang lebih primitif di mana mereka tidak memiliki sifat manusia.

Akan menghibur jika metafora yang tidak manusiawi dan ide hierarkis tentang manusia dan hewan hanyalah keingintahuan historis. Sayangnya ada banyak bukti yang bertahan. Orang-orang secara mengejutkan bersedia menggolongkan sebagian manusia lain sebagai kurang manusiawi, dan lebih primitif, daripada yang lain. Metafora hewani menyinarkan cahaya yang mengungkap realitas yang mengerikan itu.

Mengerikan, pemirsah, maka hentikanlah. Ingat! Sebuah Holocaust dan genosida di Afrika pernah didominasi citra tersebut. (*)