Lembaga Survei Ancam Bisa Tuntut Balik Tudingan BPN Prabowo Sandiaga Uno

Tudingan bahwa lembaga survei yang melakukan quick count hasil Pilpres 10`9 dan pelaporan ke polisi tidak akan bergenti sampai di situ.

Lingkaran Survei Indonesia Denny JA misalnya, mengatakan bisa menuntut balik Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, yang menyebut lembaga survei ini menyesatkan publik lewat publikasi hasil hitung cepat Pilpres 2019.

Hal itu dikatakan Rully Akbar, peneliti LSI Denny JA, “Kami bisa menuntut balik BPN Prabowo – Sandiaga kalau tudingan itu tak terbukti benar,” abcamnya.

Rully menyebut, hasil hitung cepat LSI Denny JA bisa dibandingkan dengan hasil rekap manual yang dilakukan oleh KPU.

“Kalau nanti hasil hitung cepat kami tak berbeda jauh dengan KPU, maka lembaga survei bisa menuntut balik mereka (BPN),” kata Rully, Kamis (18/4/2019).

LSI Denny JA, kata dia, dalam hitung cepat perolehan suara pilpres mereka sudah mencapai 99,55 persen.

Dari total sampel survei yang masuk itu, 55,77 persen adalah perolehan Jokowi – Maruf Amin, Prabowo – Sandiaga hanya mendapat 45,23 persen.

BPN Prabowo – Sandiaga melaporkan sejumlah lembaga survei ke aparat kepolisian.

Dan lembaga survei yang dilaporkan mereka bukanlah lembaga baru. LSI Denny JA dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang selalu menjadi acuan pemilu, sudah berulang kali melakukan quick count.

Sebelumnya, BPN Prabowo – Sandiaga Uno menganggap lembaga tersebut menyesatkan dan berbahaya, di antaranya yang dilaporkan itu di antaranya LSI Denny JA, SMRC, Charta Politika, Indobarometer, Poltracking, dan Voxpol.

Seluruhnya menyatakan Jokowi – maruf Amin unggul atas Prabowo – Sandiaga, dengan eunggulan di atas 50 persen. (*)